23 Juli 2011….
Aku terbangun dari tidur dengan perasaan yang lebih
tenang dari yang ku duga.
Aneh!!!
Mengingat apa yang akan ku hadapi hari ini, kenapa hatiku
masih bisa setenang ini???
Hanya rasa ikhlas dan pasrah yang ku rasakan saat ini.
Apapun yang terjadi hari ini, ku pasrahkan pada Tuhan.
Hanya satu yang ku minta, agar semua pengorbanan yang
telah mereka lakukan untukku tak berakhir sia-sia.
Ku lihat wajahku dalam cermin..
Tuhan, aku pasrahkan semuanya padamu.
Ku harap wajah ini masih bisa memberikan senyuman dan
kedamaian untuk orang-orang disekitarku.
Semoga tubuh ini masih berguna untuk membahagiakan
orang-orang yang kusayangi.
Aku tersenyum dan ku langkahkan kakiku.
Ku lihat disekitarku.
Wajah-wajah orang yang kusayangi.
Orang-orang yang telah berjuang keras untukku.
Sekali lagi, aku tersenyum, berusaha memberi ketenangan
pada mereka – terlebih pada diriku sendiri – bahwa semuanya akan baik-baik
saja.
Ku lihat wajah tua yang beberapa hari ini tak bisa
menyembunyikan kekhawatiran di balik senyumnya.
Ayah, tenanglah!!! Aku akan baik-baik saja…
Satu per satu aku merasakan ciuman dan belaian kasih
sayang dari orang-orang luar biasa itu.
Dan itu membuatku semakin yakin untuk menghadapi hari
itu.
Suara roda terdengar di tengah-tengah bercampur baurnya pikiranku.
Sebentar lagi
Ya, sebentar lagi akan ku masuki ruangan itu.
Ruangan dengan nama yang sama dengan ruangan yang
memberiku suatu kesedihan beberapa bulan yang lalu.
Dan kuharap ruangan ini tidak akan memberikan kesedihan
yang sama seperti waktu itu.
Ketika pintu terbuka, ku lihat telah banyak orang menanti
kehadiranku.
Mereka (lagi-lagi) tersenyum, seolah memberiku keyakinan
bahwa aku bisa melewati semua ini.
Mereka berbicara banyak hal, namun aku tak begitu
mendengar apa aja yang mereka katakan.
Pada intinya, aku tahu mereka ingin memberiku kekuatan.
Aku tersenyum, pasrah dengan apa yang mereka lakukan
kemudian terhadapku.
Sampai kemudian aku tak merasakan apa-apa, dan terlelap.
* * *
Ku buka mataku.
Sakit, kenapa sakit sekali tubuh ini???
Ku tatap sekelilingku dan ku lihat wajah-wajah baru
tersenyum seperti merasakan kelegaan yang luar biasa.
Aduh, kenapa kepala ini berat sekali rasanya???
Apa yang mereka katakan??? Aku tak mengerti!!!
Ku tebarkan lagi pandanganku walaupun kepala dan seluruh
tubuhku sulit sekali berkompromi untuk bisa ku ajak untuk lebih memfokuskan
diri pada apa yang ada di sekitarku.
Yaa Tuhan…
Begitu banyak selang-selang dan berbagai peralatan medis
ada di sekelilingku.
Ku coba menarik nafas, namun ternyata nafasku pun tak
bisa ku ajak berkompromi.
Sulit sekali menghirup udara di sekelilingku sampai-sampai
aku harus menggunakan alat bantu untuk bisa bernafas normal.
Ku lihat pintu terbuka.
Satu persatu ku lihat wajah-wajah yang melangkah masuk.
Ayahku, kakakku, dan di balik kaca ku lihat wajah
sahabat-sahabatku memandangku dengan penuh kekhawatiran.
Aku tersenyum tipis untuk mengabarkan pada mereka aku
baik-baik saja.
Kurasakan ciuman bertubi-tubi mendarat di keningku dan
seketika itulah air mataku mengalir.
Yaa Tuhan, terima kasih.
Engkau masih memberikan aku kesempatan kedua.
Engkau masih memperbolehkan aku melihat wajah-wajah
orang-orang yang kucintai.
Ku abaikan rasa sakit di seluruh tubuhku, dan hanya rasa
syukur yang ku ekspresikan dengan derasnya air mata yang mengalir dari mataku.
23 Juli 2012
Kini, setahun
sudah kejadian itu berlalu.
Dan rasa syukur tak henti ku panjatkan atas kehidupanku.
Masa-masa setelah hari itu bukanlah masa yang mudah.
Setiap hari aku harus berjuang melawan rasa sakit dan
hari-hariku dipenuhi dengan terapi-terapi yang sangat membosankan.
Di usiaku yang sudah menginjak 22 tahun, aku harus
kembali belajar bagaimana cara berjalan, menggerakkan tangan, menggerakkan
kaki, menoleh, duduk, dan bahkan cara bernafas.
Dengan gerak tubuhku yang masih terbatas waktu itu, aku
berjuang melawan rasa sakit yang masih tersisa di tubuhku.
Ku coba melangkah sedikit demi sedikit.
Dari mulai aku hanya boleh melangkah tak lebih dari 5
menit, 10 menit, 15 menit dan kini aku bisa melangkah sejauh apapun aku mau.
Tuhan, sungguh besar anugerah-MU untukku.
Kau telah memberiku kekuatan untuk bisa hidup dengan
normal.
Kau telah memberiku kekuatan untuk bisa berjuang dan
memberikan kebahagiaan untuk orang-orang yang kucintai.
Kini, aku bisa sedikit demi sedikit mengurangi beban
orang tuaku.
Aku bisa sedikit membalas pengorbanan mereka untukku.
Aku pun bisa menghadirkan kembali senyum ayahku yang
sempat hilang.
Dan satu yang bisa membuatku merasa berguna,
Aku bisa membuktikan pada bidadariku di surga, bahwa aku
mampu melewati semua ini.
Aku bisa membuat bidadariku di surga tersenyum lega
melihat aku telah sembuh dari cengkraman penyakit itu.
Dan aku yakin, bidadariku di sana akan tersenyum bangga
melihatku bisa berdiri tegak dan menatap masa depanku disini.